Showing posts with label Seputar Islam. Show all posts
Showing posts with label Seputar Islam. Show all posts

Bukan Kebebasan Merusak Agama

Setiap agama memiliki prinsip dasar dan aturan yang bersifat pasti, tidak boleh ada perbedaan pendapat di dalamnya. Rukun Iman yang berjumlah enam, mulai dari iman kepada Allah SWT sampai iman kepada qada dan qadar/ketentuan Allah SWT (hadis riwayat Imam Bukhari Muslim), adalah bersifat pasti dan tetap.

Seorang Muslim dianggap keluar dari keislamannya manakala hanya mengakui dua atau tiga rukun iman saja. Rukun Islam yang berjumlah lima, mulai dari membaca dua kalimat syahadat sampai dengan melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu (Hadis Riwayat Imam Bukhari), juga bersifat pasti dan tetap. Seseorang dinyatakan murtad apabila hanya mengakui dua atau tiga rukun Islam dan mengingkari rukun Islam yang lainnya.


Abu Bakar Shiddiq bersumpah akan memerangi orang yang hanya melaksanakan shalat, tetapi secara sadar dan sengaja enggan mengeluarkan zakat. Itu karena, kewajiban shalat dan kewajiban zakat adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Allah SWT dalam surah Al-Baqarah [2]: 43 berfirman, "Dan, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukulah beserta orang-orang yang ruku."

Dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu Mas'ud menyatakan bahwa tidak ada (pahala) shalat bagi orang yang mengingkari zakat. Dan, tidak ada pahala bagi orang yang menunaikan zakat, tetapi mengingkari kewajiban shalat.

Demikian pula kepercayaan dan keyakinan kepada Alquran dan Sunah Rasul yang merupakan sebuah kesatuan, yakin kepada Alquran harus pula yakin kepada Sunah. Ketaatan kepada Allah SWT harus pula diikuti dengan ketaatan kepada Sunah Rasulullah, sebagaimana yang termaktub dalam hadis-hadisnya.

Allah SWT berfirman dalam surah Ali Imran [3]: 32, "Katakanlah, 'Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kamu berpaling, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir." Karena itu, orang yang mengingkari Sunah sama dengan mengingkari Alquran. Demikian pula sebaliknya.

Aliran Ahmadiyah mengakui adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Padahal, sejak periode Rasulullah SAW sampai dengan akhir zaman, tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Perhatikan surah Al-Ahzab [33]: 40, "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan, adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Jika Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) tetap meyakini adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW, padahal sudah diberitahu dengan argumentasi yang lengkap dan cara-cara yang hikmah, mereka sama dengan menyatakan dirinya keluar dari dari ajaran Islam.

Tidak boleh dengan alasan kebebasan beragama atau alasan HAM merusak ajaran Islam yang sudah bersifat pasti dan tetap. Di Pakistan, aliran Ahmadiyah disebut sebagai kelompok minoritas non-Muslim. Sehingga, jika menjadi agama Ahmadiyah (tanpa membawa nama Islam), kewajiban kita (sebagai Muslim) untuk menghormati mereka (JAI). Wallahu A'lam.

Sumber : "saga-islamicnet.blogspot.com"

Dunia Diperintahkan Melayani Hambanya yang Taat Beribadah

Setiap kejadian di atas muka bumi selalu diputuskan dengan rahmat-Nya, serta kudrat dan iradat-Nya. Seluruh ciptaan tak ada yang luput dari pengawasan-Nya, termasuk aktivitas manusia. Allah jua yang telah menuliskannya dalam lauh mahfuzh-Nya (QS Al-Hadid [57]: 22).

Meski semua telah tertulis di zaman azali, manusia tetap diperintahkan untuk berikhtiar menjemput kebaikan. Tak ada satu kebaikan pun yang diraih dengan berpangku tangan. Semua itu meniscayakan adanya sebuah gerak, usaha, dan akselarasi.


Diam hanya akan membuat seseorang berkubang dalam penderitaan dan kegagalan. Jika kita adalah seorang pedagang atau pebisnis, mutlak untuk melakukan sesuatu. Sebaik-baik ikhtiar manusia adalah merujuk pada syariat-Nya, sebagai Zat yang mengatur kehidupan. Ikhtiar berikut boleh disebut sebagai kunci pelaris bagi usaha perniagaan kita.

Pertama, bertobat dan beristighfar. "Dan, hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertaubatlah kepada-Nya. Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan. Dan, Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berbuat baik." (QS Hud [11]: 3). Baca juga ayat ke-15 dan QS Nuh ayat 10-12.

Seseorang yang telah bertobat dan terus-menerus beristighfar berada dalam pengampunan Zat yang Maha Menggerakkan. Dan, itu artinya, doa dan harapannya bisa segera dikabulkan.

Kedua, sungguh-sungguh bertakwa. "Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan, Dia memberinya rezeki dari arah yang tak terduga." (QS At-Thalaq [65]: 2-3). Di saat-saat sulit, gagal, pailit, dan sepi pembeli, haqul yaqin akan ada saja jalan kemudahan jika selalu bertakwa kepada-Nya. Dengan bertakwa, pintu kemudahan akan terbuka. Ia adalah bekal terbaik dalam menjalani hidup (QS Al-Baqarah [2]: 197), serta pengait untuk memintal setiap urusan.

Ketiga, tawakal. "Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan cukupkan (keperluannya)." (QS At-Thalaq [65]: 3). Setelah berusaha dengan kerja keras dan ikhtiar, serahkan sepenuhnya kepada Allah. Seseorang tetap harus melibatkan dan memasrahkan usahanya itu kepada Zat yang Maha Menentukan.

Keempat, silaturahim dan sedekah. "Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang dikehendaki. Dan, apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya. Dialah Pemberi rezeki yang terbaik." (QS Saba [34]: 39).

Menjalin tali silaturahim lebih dari sekedar saling mengunjungi. Ia sangat efektif untuk menjaring relasi dan perkongsian yang positif. Apalagi, jika saling memberi kail sedekah, bisa dipastikan semakin terbukalah pintu-pintu kemudahan.

Kelima, beribadah sepenuh hati hanya mencari rida Allah SWT. Di antaranya adalah mengerjakan yang wajib dan menghidupkan yang sunah. "Barang siapa yang beribadah kepada-Ku dengan sepenuh hati, aku perintahkan dunia untuk melayaninya." (Hadis Qudsi). Walahu a'lam.


Sumber : "saga-islamicnet.blogspot.com"

 
/*SEO smart link */